Selasa, April 15, 2008

Peran Orang Tua dalam Mendukung Sukses Pendidikan Anak[1]

Oleh Adi Junjunan Mustafa[2]

Dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua (orang tua) dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ”Wahai Rabbku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku sewaktu kecil.” (QS al-Isra, 17:24)

Sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia berdoa, ” Wahai Rabbku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS al-Ahqaf, 46:15)

Ayat pada surat al-Isra di atas menggambarkan betapa besarnya arti pendidikan orang tua kepada anak-anak semasa mereka kecil, hingga Allah swt mengabadikan dalam lafazh doa pada al-Quran. Sementara itu, pada surat al-Ahqaf:15 tergambar bahwa kematangan kepribadian seorang beriman tercermin dalam usaha dan permohonan kepada Allah agar kebaikan pada dirinya menjadi washilah kebaikan yang akan diperoleh anak cucunya. Oleh karenanya perhatian orang tua terhadap pendidikan anak-anak semasa kecil menjadi sebuah kewajiban dalam ajaran Islam.

Orang tua hendaknya memiliki pengetahuan dan visi yang shahih (benar) dan jelas akan arah pendidikan anak. Ayat di atas memberi bekal para orang tua agar mengarahkan pendidikan anak pada sikap bersyukur kepada Allah dan pada perbuatan-perbuatan kebajikan (’amal shalih) yang diridhai Allah. Visi ini harus melekat pada orang tua di tengah berbagai tarikan-tarikan materialisme dalam tujuan kehidupan [1].

Professor Arief Rachman mengatakan bahwa anak butuh akhlak dan watak [2]. Beliau melihat pendidikan di Indonesia secara umum hanya menekankan aspek kognitif (pikiran, akademis). Hal-hal yang sifatnya terukur saja. Sementara itu, soal akhlak dan watak serta hal lain yang tidak terukur, boleh dibilang ditelantarkan. Padahal kalau kita membaca tujuan pendidikan dalam Undang-Undang Pendidikan, kita bisa melihat bahwa tujuan pendidikan itu memuat juga kedua hal tersebut. Inilah yang menyebabkan bangsa ini sulit menjadi bangsa yang besar. Korupsi masih ada di mana-mana, sikap tidak sportif merebak di berbagai dimensi kehidupan dan sikap-sikap negatif lainnya.

Menimbang hal-hal di atas, makalah ini akan dibuka dengan sifat pendidik suskes menurut arahan Nabi Muhammad saw. Kemudian dikupas secara singkat bentuk-bentuk pelibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah. Dan pada bagian akhir disampaikan kiat-kiat orang tua dalam membangun jiwa (kepribadian) anak yang merupakan bagian paling mendasar dalam pendidikan.

Sifat-sifat Pendidik Sukses dalam Pengarahan Nabi saw.

Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid mencatat beberapa sifat pendidik sukses sebagai berikut [3]

1. Penyabar dan tidak pemarah, karena dua sifat ini dicintai Allah swt. (h.r. Muslim dari Ibnu ’Abbas)

2. Lemah lembut (rifq) dan menghindari kekerasan.

Allah itu Maha Lemah Lembut, cinta kelemahlembutan. Diberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan kepada selainnya (h.r. Muslim dari ’Aisyah). Tidaklah kelemahlembutan itu terdapat pada sesuatu melainkan akan membuatnya indah, dan ketiadaannya dari sesuatu akan menyebabkannya menjadi buruk. (h.r. Muslim)

3. Hatinya penuh rasa kasih sayang

Sesungguhnya setiap pohon itu berbuah. Buah hati adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi Dzat yang jiwaku di Tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersifat penyayang. (h.r. Ibnu Bazzar dari Ibnu ’Umar)

4. Memilih yang termudah di antara dua perkara selama tidak berdosa

Tidaklah dihadapkan kepada Rasulullah antara dua perkara melainkan akan dipilihnya perkara yang paling mudah selama hal itu tidak berdosa. (Mutafaq ‘alaih)

5. Fleksibel (layyin)

Bukanlah fleksibilitas yang berarti lemah dan kendor sama sekali, melainkan sikap fleksibel dan mudah yang tetap berada di dalam koridor syariah. Neraka itu diharamkan terhadap orang yang dekat, sederhana, fleksibel (lembut) dan mudah –qariib, hayyin, layyin, sahlin- (h.r. Al Kharaiti, Ahmad dan Thabrani)

6. Ada senjang waktu dalam memberi nasihat

Ibnu Mas’ud hanya memberi nasihat kepada para sahabat setiap hari Kamis. Maka ada seorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdur Rahman, alangkah baiknya jika Anda memberi nasihat kepada kami setiap hari.” Beliau menjawab, “Saya enggan begitu karena saya tidak ingin membuat kalian bosan dan saya memberi senjang waktu dalam memberikan nasihat sebagaimana Rasulullah lakukan terhadap kami dahulu, karena khawatir kami bosan.” (Muttafaq ‘alaih).

Dasar dari sifat-sifat mulia di atas adalah keshalihan orang tua. Keshalihan orang tua ini akan memiliki pengaruh positif terhadap anak-anak. Firman Allah, “Dan orang-orang yang beriman, Kami akan pertemukan keturunan mereka dengan mereka. Dan Kami sedikitpun tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.” [QS ath-Thur, 52:21]. Mengomentari ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah akan mengangkat derajat keturunan manusia bersama orang tuanya di Surga nanti walaupun kedudukannya tidak setinggi orang tuanya.”

Keikutsertaan Orang Tua dalam Pendidikan Anak di Sekolah

Beberapa peneliti mencatat bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah berpengaruh positif pada hal-hal berikut [4].

Ø Membantu penumbuhan rasa percaya diri dan penghargaan pada diri sendiri

Ø Meningkatkan capaian prestasi akademik

Ø Meningkatkan hubungan orang tua-anak

Ø Membantu orang tua bersikap positif terhadap sekolah

Ø Menjadikan orang tua memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap proses pembelajaran di sekolah

Pihak sekolah dapat menyiapkan beberapa metoda untuk dapat melibatkan orang tua pada pendidikan anak, diantaranya dengan:

Ø Acara pertemuan guru-orang tua

Ø Komunikasi tertulis guru-orang tua

Ø Meminta orang tua memeriksa dan menandatangani PR

Ø Mendukung tumbuhnya forum orang tua murid yang aktif diikuti para orang tua

Ø Kegiatan rumah yang melibatkan orang tua dengan anak dikombinasikan dengan kunjungan guru ke rumah

Ø Terus membuka hubungan komunikasi (telepon, sms, e-mail, portal interaktif dll)

Ø Dorongan agar orang tua aktif berkomunikasi dengan anak

Diantara teori pendidikan menyebutkan sebuah paradigma tripartite (tiga pusat pendidikan), yang menempatkan sekolah, keluarga dan masyarakat sebagai tiga elemen yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan [5]. Dari ketiga elemen tripartite itu, keluarga merupakan fokus utama yang harus mendapat perhatian lebih, karena anak lebih banyak berada di rumah.

Cara Efektif Membangun Jiwa Anak

Sesungguhnya tugas utama pendidikan anak adalah membangun jiwa mereka agar siap menerima berbagai pelajaran dan kelak mengaplikasikan ilmu yang mereka peroleh demi kebaikan sesama. Ustadz Muhammad mengupas pengarahan Nabi Muhammad saw dalam membangun jiwa anak [6], sebagai berikut.

1. Menemani anak

Persahabatan punya pengaruh besar dalam jiwa anak. Teman adalah cermin bagi temannya yang lain. Satu sama lain saling belajar dan mengajar. Rasulullah saw berteman dengan anak-anak hampir di setiap kesempatan. Kadang-kadang menemani Ibnu ’Abbas berjalan, pada waktu lain menemani anak paman beliau, Ja’far. Juga menemani Anas. Begitulah Rasulullah berteman dengan anak-anak tanpa canggung dan tidak merasa terhina.

2. Menggembirakan hati anak

Kegembiraan punya kesan mengagumkan dalam jiwa anak. Sebagai tunas muda yang masih bersih, anak-anak menyukai kegembiraan. Bahkan orang tua merasakan kegembiraan dengan riangnya mereka. Oleh karena itu, Rasulullah saw selalu membuat anak-anak bergembira, antara lain dengan cara:

Ø Menyambut anak dengan baik

Ø Mencium dan mencandai anak

Ø Mengusap kepala mereka

Ø Menggendong dan memangku mereka

Ø Menghidangkan makanan yang baik

Ø Makan bersama mereka

3. Membangun kompetisi sehat dan memberi imbalan kepada pemenangnya

Umumnya manusia, apalagi anak-anak, suka berlomba. Rasulullah pun suka membuat anak-anak berlomba, misalnya ketika beliau membariskan Abdullah, Ubaidillah, dan anak-anak ‘Abbas lainnya, lalu bersabda, “Siapa yang mampu membalap saya, dia bakal dapat ini dan itu …” Maka mereka pun berlomba membalap Rasulullah saw sehingga berjatuhan di atas dada dan punggung beliau. Setelah itu mereka diciumi dan dipegangi oleh beliau.

4. Memberi pujian

Pujian punya pengaruh penting dalam diri anak, sebab dapat menggerakkan perasaan dan emosinya sehingga cepat memperbaiki kesalahannya. Mereka bahkan menunggu-nunggu dan mendambakan pujian.

5. Bercanda dan bersenda gurau

Canda dan senda gurau akan membantu perkembangan jiwa anak dan melahirkan potensinya yang terpendam. Rasulullah saw menyerukan, “Barangsiapa punya anak kecil hendaklah diajak bersenda gurau!” (h.r. Ibnu Asakir)

6. Membangun kepercayaan diri anak

Ini dilakukan dalam bentuk:

Ø Mendukung kekuatan ‘azzam pada anak, misalnya melatih menjaga rahasia dan membiasakan anak berpuasa

Ø Membangun kepercayaan sosial

Ø Membangun kepercayaan ilmiah

Ø Membangun kepercayaan ekonomi dan perdagangan

7. Memanggil dengan panggilan yang baik

Bermacam-macam cara Rasulullah saw memanggil anak, tujuannya untuk menarik perhatian dan membuat anak siap mendengar apa yang hendak dipesankan. Panggilan ini misalnya “nughair” atau si burung pipit, “ghulam” yang berarti anak, atau “wahai anakku”. Sementara para sahabat memanggil anak-anak dengan “wahai anak saudaraku”.

8. Memenuhi keinginan anak

Adakalanya orang tua harus memenuhi permintaan anak. Ini juga merupakan cara efektif untuk menumbuhkan emosinya dan menambat jiwanya terhadap orang tua. “Sesungguhnya barangsiapa berusaha menyenangkan hati anak keturunannya sehingga menjadi senang, Allah akan membuatnya merasa senang sehingga di akhirat ia benar-benar akan merasa senang.” (h.r. Ibnu Asakir)

9. Bimbingan terus-menerus

Anak, sebagaimana manusia lazimnya, sering salah dan lupa. Dibanding semua makhluk lain, masa anak-anak manusia adalah yang paling panjang. Ini semua kehendak Allah, agar cukup sebagai waktu untuk mempersiapkan diri menerima taklif (kewajiban memikul syariat). Orang tua harus secara telaten membimbing anak pada masa kanak-kanaknya. Ibnu Mas’ud berkata, “Biasakanlah mereka (anak-anak) dengan kebaikan, karena kebaikan itulah yang akan menjadi adat (kebiasaannya).”

10. Bertahap dalam pengajaran

Contohnya pada saat mendidik anak untuk shalat. “Perintahkan anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun dan pukullah mereka (jika enggan shalat) ketika berumur sepuluh tahun.” (h.r. Abu Dawud)

11. Imbalan dan ancaman

Cara ini tidak kalah pentingnya dalam membangun jiwa. Rasulullah saw juga menggunakan cara ini dalam pendidikan. Contohnya untuk membuat anak berbakti kepada orang tua, beliau menyebutkan besarnya pahala berbakti kepada orang tua dan besarnya ancaman begi mereka yang durhaka kepada orang tua.

Catatan Penutup

Pendidikan anak pada hakikatnya adalah tanggung jawab para orang tua. Oleh karena itu keterlibatan orang tua dalam mendukung sukses anak menuntut ilmu di sekolah merupakan kewajiban. Untuk menjadi pendidik yang baik, orang tua mesti menghiasi dirinya dengan keshalihan. Peran penting orang tua adalah membangun dan menyempurnakan kepribadian dan akhlak mulia pada anak. Untuk itu perlu sikap-sikap pendidik seperti sabar, lembut, dan kasih sayang.

Untuk melengkapi pendidikan anak di sekolah, orang tua mesti membangun jiwa anak sesuai pengarahan Nabi Muhammad saw.

Daftar Bacaan

[1] Untuk lebih detil, kami mencatat masalah visi pendidikan anak dalam tulisan ”Memaknai Pendidikan Anak”, blog entry dengan alamat link: http://adijm.multiply.com/journal/item/221

[2] Harian Seputar Indonesia, Minggu, 17 Februari 2008 pada artikel/wawancara tokoh Kak Seto (Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak) berjudul ”Pusing dengan Perceraian Artis”.

[3] Untuk lebih detil silakan membaca buku tulisan Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid berjudul ”Cara Nabi Mendidik Anak”, bab Pengantar Umum bagi Orang Tua, hal 18-22, Penerbit Al-I’tishom Cahaya Umat.

[4] Involving Parents in the Education of Their Children, tulisan Patricia Clark Brown pada http://www.kidsource.com/kidsource/content2/Involving_parents.html

[5] Peningkatan Peran Orang Tua dalam Pendidikan Keluarga, tulisan M. Ridha Alta, Peneliti pada Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) dan Mahasiswa Pascasarjana IAIN Ar-Raniry

[6] Untuk lebih detil silakan membaca buku tulisan Ustadz Muhammad Ibnu Abdul Hafizh Suwaid berjudul ”Cara Nabi Mendidik Anak”, bab Cara-cara Nabi Mendidik Anak, hal 91-104, Penerbit Al-I’tishom Cahaya Umat.

[1] Disampaikan pada pertemuan FPOM-SDIT Ummul Quro, Bogor, Sabtu 23 Februari 2008.

[2] Ayah 4 orang anak; Pemerhati masalah keluarga; Ketua Bidang Litbang Yayasan Peduli Keluarga, Bogor;

Homepage http://adijm.multiply.com/ ; E-mail adijm2001@yahoo.com.

Sekolah Internasional Vs Konvensional

SECARA berseloroh, seorang pendidik mengemukakan hal yang bisa menyentak, "Kalau ingin cepat kaya, buatlah sekolah." Alasannya, semua orang menginginkan pendidikan yang baik. Dan, bila kita bisa menciptakan sekolah yang baik, lembaga ini bisa menjadi tempat yang amat strategis untuk bisnis. Dengan kata lain, sekolah bisa dibisniskan karena masyarakat membutuhkannya.

TIDAK percaya? Lihat saja, mana ada sekolah yang tidak laku. Dengan promosi sedikit saja, sekolah pasti laku. Apalagi kalau disertai dengan berbagai embel-embel, pasti laku. Ini berbeda dengan bisnis barang, yang ada kemungkinan tidak laku, kata pendidik itu.

"Tidak hanya itu. Semakin sekolah itu berbiaya mahal, ia semakin laku. Semakin sekolah dikatakan plus atau berbau internasional, semakin banyak orang tergiur untuk memasukinya. Maka, dalam masyarakat kita mulai muncul, kalau sesuatu itu bermutu, maka harus ada ISO-nya. Sekolah juga begitu. Selain ISO, kalau mungkin, sekolah juga memberi embel-embel internasional," kata pendidik itu menambahkan.

Dalam kenyataannya, begitu banyak sekolah, di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota besar lain, yang menambah kata "internasional" sebagai "nilai jual" saat melakukan promosi dan akan menjaring calon mahasiswa. Bahkan, ada sejumlah sekolah yang kabarnya melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri.

"Memang, ada sekolah yang bermisi mencerdaskan anak bangsa, tetapi ada juga sekolah yang tidak menghiraukan hal itu dengan membuat program-program yang bagus agar orang tertarik. Karena itu, pada sekolah-sekolah seperti itu kini selain ada direktur atau kepala sekolah, juga ada orang yang diserahi tugas marketing atau pemasaran. Artinya apa? Dengan munculnya istilah atau gaya bisnis, suasana bisnis sudah mulai banyak dipakai dalam dunia pendidikan," ujar Drs E Baskoro Poedjinoegroho MA, Direktur Sekolah Menengah Atas (SMA) Kanisius Jakarta.

ATAS munculnya sekolah-sekolah yang kabarnya menggunakan standar internasional dan menarik uang masuk mulai dari Rp 30 juta hingga Rp 60 juta dan uang sekolah Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan, masih mengemban misi ingin mencerdaskan bangsa? Entahlah. Namun, fenomena baru yang muncul di masyarakat justru sekolah-sekolah seperti itu yang kini malah laku. Lakunya sekolah seperti itu umumnya karena menggunakan bahasa asing sebagai pengantar, jumlah siswa yang kecil untuk tiap kelas, dan fasilitas yang canggih.

Salahkah mereka membuat sekolah-sekolah "canggih"? Tentu saja tidak. Sekolah-sekolah itu diadakan juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Pandangan masyarakat atas pendidikan pun kini sudah berubah. Masyarakat mulai pragmatis. Anakku harus pandai, maka ia harus masuk sekolah yang bagus, dan nanti masuk perguruan tinggi yang bagus pula. Ketika selesai, diharapkan bisa bekerja di tempat yang bagus, menduduki posisi bagus, dan (ini yang penting) kaya. Ini berarti, sekolah menjadi tempat pelatihan keterampilan agar bisa masuk dunia kerja yang memberi jaminan hidup yang bagus.

Akibat lebih lanjut, yang dipilih di perguruan tinggi adalah jurusan favorit. Di tahun 1960-an, ada pandangan, dokter sebagai profesi yang banyak menghasilkan uang sekaligus mengangkat gengsi keluarga. Anak-anak pun didorong masuk kedokteran. "Itu sebabnya, pada tahun 1960-an, kebanyakan lulusan Kanisius menjadi dokter," kata Baskoro.

Setelah dokter, ganti insinyur naik daun, disusul manajemen perbankan agar bisa masuk bank-bank yang bermunculan. Namun, saat banyak bank sekarat, nasib mereka ikut terombang-ambing. Kini, teknologi informasi sedang ngetren.

Melihat kenyataan itu, tuntutan antara sekolah dan kebutuhan pasar mulai terwujud dalam sekolah-sekolah "canggih" tersebut. Meski demikian, tetap muncul gugatan atas sekolah-sekolah "canggih" itu. Benarkah mereka ikut mencerdaskan bangsa, mendorong kemandirian dan sosialisasi anak, melatih kerja sama anak, dan menghargai perbedaan? Mengingat untuk bisa masuk ke sekolah-sekolah "canggih" itu sudah ada semacam batasan-paling tidak uang masuk yang jutaan dan uang sekolah yang tinggi-mau tidak mau, anak hanya bertemu dengan teman-teman dari kelas ekonomi yang hampir sama.

Selain itu, pada sekolah-sekolah ini, umumnya, anak boleh memilih pelajaran yang disukai saja sehingga memudahkan guru untuk memacu anak mendapat pengetahuan dan nilai yang maksimal. Jumlah siswa yang kecil membuat komunikasi guru dengan murid pun menjadi amat intens. Dengan kata lain, tuntutan akademis tidak seketat pada sekolah-sekolah konvensional.

Sebaliknya, para pengelola sekolah-sekolah "canggih" itu juga mempunyai mengapa dibuat sekolah seperti itu. "Sekolah-sekolah ini merupakan jawaban atas ketidakpuasan masyarakat atas pendidikan kita. Tuntutan globalisasi mendorong mereka untuk membuat sekolah seperti itu. Kalau tidak, kita akan tergulung," ujar Anita Lie, pengamat pendidikan.

MELIHAT perkembangan dunia pendidikan seperti itu, tidaklah mengherankan bila sejumlah sekolah pun digunakan standar seperti pada dunia industri. Kalau sesuatu itu bermutu, ia harus ada ISO-nya. Kini, sekolah akan dikatakan bermutu dan bertaraf internasional bila menggunakan International Baccalaureate (IB). Pengelola sekolah yang mengikuti program IB mengemukakan, sekolahnya akan meluluskan siswa berstandar pendidikan internasional. Para lulusan memiliki hak untuk diterima masuk sekolah dalam satu negara atau di negara lain yang mempunyai standar dan menggunakan program IB.

"Mereka tak perlu lagi tes masuk karena standar mutu di sekolah peserta IB sama," kata Hari Harjanto, Sekretaris Eksekutif Sekolah Ciputra Surabaya. Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Education Operation Manager Sekolah Tiara Bangsa Elisabeth.

Pada tahun 2001, Sekolah Tiara Bangsa mendapat otorisasi sebagai sekolah yang memakai IB dari IBO (International Baccalaureate Organization) yang berpusat di Genewa, Swiss, untuk taman kanak-kanak (primary years program) usia 3 tahun hingga kelas V sekolah dasar dan tingkat middle years program untuk siswa kelas V hingga SMA kelas I. Boleh dikatakan, Sekolah Tiara Bangsa merupakan sekolah pertama di Indonesia yang mendapat sertifikat dari IBO.

"Tahun ini kami baru membuka kelas II SMA sehingga belum ada program IB untuk diploma," ujar Elisabeth, seraya menambahkan, program ini dilakukan untuk membantu masyarakat yang menginginkan sekolah bertaraf internasional tanpa harus melepaskan anaknya ke luar negeri. Ini dimaksudkan untuk membantu pemerintah agar tidak banyak devisa "lari" ke luar negeri.

FENOMENA orang belajar di luar negeri ini sebenarnya sudah ada lama. Bahkan diperkirakan, lebih dari 2.500 anak setiap tahun belajar ke luar negeri. Berangkat dari kenyataan ini, tahun 1990-an, orang beramai-ramai mendirikan sekolah ber-trade mark internasional. Kondisi sekolah umumnya megah, fasilitas komplet.

Meski demikian, sekolah internasional tak hanya memerlukan fasilitas lengkap dengan gedung megah, tetapi juga membutuhkan kurikulum berbobot, guru berkompeten yang mampu memotivasi anak untuk berpikir dan bertindak kreatif, dan bertabiat baik. Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa sekolah mulai mengadopsi sistem pembelajaran dari "Barat", misalnya dari Australia.

Menurut Hari Harjanto, sekolahnya sebelumnya mengikuti sistem VCS (victory curriculum system) yang berpusat di Negara Bagian Victoria, Australia, tetapi cakupannya belum sebesar IB yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia, dan sebagian besar berada di negara maju. Keputusan mengikuti IBO, kata Hari, guna menampung keinginan orangtua agar anaknya mendapat pendidikan terbaik seperti jika bersekolah di luar negeri.

Menurut website IBO, kini ada 18 sekolah di Indonesia yang bergabung dengan organisasi internasional itu. Selain Sekolah Tiara Bangsa, tercatat Cita Hati Christian High School, Sekolah Pelita Harapan, sekolah internasional di Bali, Bandung, Bogor, Medan, dan Jakarta juga sudah bergabung. Dan, jumlah sekolah di Indonesia pemakai program IB akan terus bertambah. Sekolah Ciputra Surabaya, misalnya, sudah merintis pengurusan agar dapat mengikuti program itu untuk tahun ajaran 2003-2004. (Soelastri Soekirno/ tonny d widiastono)

http://64.203.71.11/kompas-cetak/0406/17/PendDN/1090014.htm