Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 02, 2008

ABG Cuma Bisa Hura-hura?

Hua…ha…ha…ha!” tawa lepas itu sering terdengar di malam minggu, malam senin, sampe malam selasa. Terutama pada jam-jam sibuk orang mencetin tombol remote tv nyari channel hiburan malam. Ya, sekitar jam 7 maleman ke atas gitu deh. Terkadang diselingi tawa nggak lepas, senyum dikulum, hingga cekikikan khas kuntilanak. Iih…syereem! Asalnya dari para penikmat hiburan komedi televisi. Mereka adalah komunitas baru yang behasil diciptakan oleh trans TV, extravaganzaholic. Sapa tuh?

Extravaganzaholic adalah sejenis makhluk hidup yang doyan ketawa akibat ketagihan hiburan khas Extravaganza. Sejak kehadirannya, variety show yang menghadirkan komedi rasa baru ini kian populer di kalangan pemirsa tipi. Semua terhibur dengan tingkah polah dan percakapan para penghuni dunia extravaganza ini yang pada ngocol. Ada ‘Tato Rame’ Sudiro, Ronald ‘Si Raja Teh’, Indra Birowo, Tieke, Virnie, Sogi, Mike, dan nggak boleh ketinggalan kuncen planet ini, Aming/Amingwati yang sering kedapetan ‘bias gender’ saat berakting. Hihihi…

Kini, kesuksesan ekstravaganza coba ditularkan produsennya pada generasi penerusnya yang masih belia. Yup, planet Extravaganza mulai dihuni oleh bintang-bintang muda yang tergabung dalam gank ekstravaganzabg. Mereka adalah Nia Ramadani, Laudya Cintya Bella, Cecep Reza, Tities Saputra, Bobby Muscar, Rafi Ahmad, Frans Indonesianus, Asha Shara dan Dhawiya Zaida.

Wajah-wajah baru di dunia hiburan ini mencoba ngikutin jejak kakek-nenek moyangnya (Aming dkk). Dengan menghadirkan bintang tamu dan band-band idola remaja, extravaganzabg pengen dapet tempat di hati remaja en remaji. Sukseskah mereka? Tonton aja ndiri! (lho, kok malah nyaranin nih? Hehehe..)



Kreativitas juga punya batas

Banyak yang heran dengan kesuksesan hiburan khas Extravaganza. Lantaran pemainnya bukan para pelawak murni atau mantan personel group lawak. Tapi para aktor dan entertainer asli yang nggak ada bakat keturunan ngelawak apalagi dikutuk jadi makhluk pengocok perut. Menurut M. Ikhsan, Pimpinan Kreatif Extravaganza, “Kami mencoba memahami kultur industri televisi. Mela­kukan lompatan, mewujudkan berbagai inovasi, belajar memahami psikologi penonton dan menang­kap momen,” (Pikiran Rakyat, 24/07/06)

Bener sobat, kamu yang termasuk extravaganzaholic boleh acungi keempat jempol kamu (sambil duduk biar nggak jatoh) dengan kreativitas hiburan yang disajikan T-‘enggak’ (dalam bahasa jawa, ora=enggak hehehe... maaf ye Mas Tora) Sudiro cs. Sketsa komedi yang menyajikan delapan sitkom dalam setiap episodenya ini emang mujarab untuk ngobatin kejenuhan kita menghadapi permasalahan hidup. Lawakannya merakyat abis. Tema-tema keseharian dikemas dalam bodoran segar yang mengandalkan percakapan yang ngocol. Bukan cuma improvisasi pemain atau lawakan fisik yang kurang santun (meski dikit-dikit ada sih). Udah nggak zamannya, Bro!

Sayangnya, seperti kebanyakan tayangan entertaint, Extravaganza juga nggak bisa lepas dari unsur bebas nilai. Celotehan dan adegan yang sering diperagakan para pemainnya nggak sedikit yang nyerempet-nyerempet porno dan cenderung vulgar. Kondisi ini diperparah dengan kostum seksi yang terbuka, mini, dan full pressed body yang sering dipake para pemain wanitanya. Hasilnya, nggak cuma memancing tawa penonton tapi juga imajinasi mereka. Pik-tor tuh!

Sementara dalam extravaganzabg, meski skenario dan adegan yang vulgarnya diperketat, kehidupan remaja yang kental dengan tawa, canda, dan hura-hura tetep mendominasi dalam setiap episodenya. Kondisi ini kian melengkapi hiburan-hiburan lain yang banyak menggiring remaja untuk menikmati hidup dengan fun. Meski tertawa bikin kita bahagia dan baik untuk kesehatan, tapi kalo hidup cuma diisi dengan ketawa bisa jontor dan tebel tuh bibir! Hehehe.....

Nah sobat, kreativitas pekerja seni dalam menghibur kita emang itu yang kita tunggu. Tapi nggak harus pake ngelanggar etika dan sopan santun dong. Apalagi sampe bebas nilai. Tetep, pemirsa juga berhak dapetin hiburan dan informasi yang mendidik. Sehingga media bisa menjadi sahabat kita. Betul?



Remaja wajib melek media

Dirut Trans TV, Ishadi SK, mengingatkan kita untuk selalu menempatkan televisi (broadcast) dalam dua posisi, yaitu sebagai “industri budaya” dan sebagai “institusi bisnis”. Dalam melangkah di dua posisi itu, akan selalu terjadi pertarungan antara dua kepentingan, yaitu antara idealisme dengan realita bisnis. (Pikiran Rakyat, 21/09/05)

Kita boleh aja berharap informasi dan hiburan yang kita lahap tiap hari di depan televisi bikin kita-kita pada pinter dan bermoral. Tapi kayaknya, harapan itu ibarat pungguk merindukan bulan kalo kita ngeliat acara-acara tivi sekarang. Seperti yang dituturkan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, Dian Wardiana Sjuchro, di televisi banyak kekerasan, seks, jurnalisme menyimpang, takhayul, dan mistik. Malah menurut psikolog Afra Hafny Noer, materi seksual lebih banyak diekspos daripada (unsur) pendidikannya (Pikiran Rakyat, 21/09/05)

Parahnya, ‘ideologi rating’ yang dijadikan acuan pengelola tv sering menendang idealisme mereka untuk mencerdaskan pemirsa. Mereka jadi sibuk nyari dan bikin acara yang ber-rating tinggi dan menyerap iklan banyak meski mengorbankan tanggung jawab moralnya kepada masyarakat. Weleh-weleh, kalo kita nggak kritis bisa jadi musuh dalam selimut kehadiran kotak ajaib alias televisi di rumah kita. Iya kan?

Tengok aja, tayangan yang umumnya disajikan bagi remaja isinya cuma ngupas persoalan percintaan yang cenderung mengarah pada seks bebas, keputusasaan karena ditinggal pacar, transaksi cinta demi meraih materi, melawan orangtua yang katanya “demi cinta”, hingga aborsi sebagai jalan keluar akibat kehamilan yang tidak dikehendaki. Kemudian, persoalan pergaulan tidak luput dari narkoba, dugem, bergaya hidup mewah, serta persoalan fashion yang identik dengan tren pakaian-pakaian mini, ketat, aksesori-aksesori nan mahal, ponsel canggih, hingga make up berlebihan. Yang penting trendy.

Yup, semuanya disajikan dengan vulgar nggak pake sensor. Akibatnya informasi model gini bisa jadi inspirasi bagi penonton remaja yang masih menganut gaya hidup copy-paste, nyontek abis seperti yang ada di televisi. Makanya kita kudu ngeh dengan hiburan-hiburan yang disajikan media elektronik ini. Nggak semua yang kita denger itu bener dan nggak semua yang kita lihat itu bermanfaat. Catet tuh!



Remaja, sukanya hura-hura?

Kita berharap, tentu bukan anggukan kepala untuk menjawab pertanyaan di atas. Namun, kita kudu berani akui kalo informasi dunia remaja yang hadir ke permukaan via media massa justru banyak yang mengarah ke sana. Kita jadi bertanya: “Kenapa sih nggak ada tayangan yang menggambarkan sosok remaja yang kreatif di jalur yang benar, serius dalam belajar, gigih mencari ilmu, dsb yang baik-baik?” Kenapa yang dihadirkan tuh yang kesannya hura-hura? Padahal, nggak semua remaja gitu deh. Apakah ini ingin menggiring opini bahwa remaja harus hura-hura, nyantai dan kesannya miskin idealisme?

Penelitian di Jakarta, Medan, Yogyakarta, Surabaya, dan Ujungpandang oleh Gatra yang bekerja sama dengan Laboratorium Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, turut menjawab pertanyaan di atas. Hasil survei memperlihatkan, remaja Indonesia cenderung bersikap apolitis dan apatis terhadap keadaan. Mereka lebih banyak memanfaatkan waktu untuk berhura-hura ketimbang melakukan kegiatan positif. Lebih dari itu, mereka bersikap permisif terhadap perilaku kebebasan seks.

Data lain menunjukkan, bahwa banyak teman remaja yang nggak terlalu tertarik untuk memanfaatkan waktu dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif, seperti belajar atau membaca buku. Hampir 31% (246 orang) memilih mejeng di mal atau pertokoan, berhura-hura, menenggak minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, dan mementingkan kepuasan indrawi (hedonisme). (Gatra, 3/01/98). Waduh, pegimane urusannya?

Emang nggak bisa dipukul rata hasil penelitian di atas untuk ngegambarin potret remaja secara umum. Cuma masalahnya acara televisi yang disajikan bagi remaja sekarang ini malah makin menguatkan hasil survei di atas. Dalam sinetron remaja, ceritanya seputar cinta, cemburu, kasmaran, seks bebas, yang dikemas dalam gaya hidup glamour.

Status sih boleh siswa berseragam sekolah, tapi perilakunya mencoreng nama baik kaum terpelajar. Yang ditonjolin cuma dandanan modis dengan segala aksesoris, hobi nge-dugem, atau mejeng di mal. Sementara kegiatan belajar-mengajar, diskusi pelajaran sekolah, kreativitas dalam mempraktekkan ilmu, semangat dalam belajar, rela berkorban dan saling menolong, atau potret remaja idealis? Aha, kayaknya nggak ada dalam kamus tayangan-tayangan remaja populer saat ini. Kasian deh ih!



Menjadi generasi cerdas islami

Sobat, indah banget ya kalo idealisme para pengelola tv itu nggak abis digerogotin ‘ideologi rating’. Tentu program televisi yang menghibur dan penuh manfaat dengan mudah kita nikmati. Kerinduan kita akan hadirnya cerita remaja berkualitas semodel ACI atau Rumah Masa Depan di jaman baheula akan segera terobati. Perbaikan potret buram para pelajar dengan menghadirkan sosok-sosok siswa berprestasi yang pantang menyerah melawan keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan bisa jadi teladan. Atau sebuah kompetisi intelektual yang dikemas dengan gaya populer untuk menghasilkan pelajar berprestasi tentu menjadi nilai positif dari media untuk kita.

Selain itu, pembinaan untuk membentuk karakter dan pengenalan jati diri remaja juga nggak boleh ketinggalan. Pihak media punya peranan besar dalam hal ini jika mau sedikit peduli dengan memberikan informasi yang seimbang terhadap rusaknya budaya populer yang lahir dari gaya hidup sekuler masyarakat Barat. Agar pemirsa juga cerdas dan sekaligus islami. Baik pola pikir, maupun pola sikap.

Kalo kita cuma ngisi hidup kita dengan hura-hura dijamin bakal sengsara dunia-akhirat. Sebab hidup kita kan nggak jalan di tempat. Nggak selamanya kita jadi remaja. Jika saatnya tiba dan Allah mengizinkan, kita bakal jadi orangtua, berkeluarga, dan punya tanggungjawab yang harus kita pikul. Kebayang dong kalo kondisi itu lalai kita siapkan dari sekarang selagi punya kesempatan dan kekuatan di usia muda, masa depan kita bisa amburadul...dul...dul!

Dan yang paling penting, kontrak hidup kita nggak selamanya diperpanjang. Malaikat Izrail atas perintah Allah bisa ngecengin kita kapan aja dan di mana saja. Karena itu, marilah kita menjadi generasi cerdas dan islami seperti yang disabdakan Rasulullah saw: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah.

Predikat generasi cerdas dan islami ini bisa kita raih kalo kita nggak keberatan untuk mengenal ajaran Islam lebih dalam, memahaminya, dan menjadikannya sebagai aturan hidup kita. Daripada banyak hura-hura mendingan banyakin nyari pahala. Jadi, ngaji yuk?! [Hafidz: hafidz341@telkom.net]

MOTIVASI BELAJAR


Para ahli pendidikan dan psikologi sependapat bahwa motivasi sangat penting untuk keberhasilan kita belajar.bagaimana kita bisa menumbuhkan motivasi belajar?ini barang kali yang paling penting bagi kebanyakan siswa.marilah kita tinjau beberapa hal yang mempengaruhi motivasi dan bagaimana menumbuhkannya.


SUKSES AKADEMIS

Mungkin anda bertanya apa maksudnya sukses akademis?bagaimana pula kita bisa meraih sukses di sekolah kalau kita belum mempunyai motivasi?yang perlu kita sadari adalah bahwa sekali kita punya prestasi akademis yang baik,motivasi kita untuk mempertahankannya dan meluaskannya bertambah besar.oleh karnanya,cobalah anda pelajari satu bidang yang paling mudah untuk anda.gapailah nilai 10 atau terbaik dalam bidang itu.setelah anda berhasil dalam bidang itu,maka semua kawan dan guru anda akan mengagumi maka motivasi anda akan semakin besar untuk meraih sukses di bidang yang lain.untuk yang pertama mungkin perjuangan akan berat,namun berikutnya anda akan kaget sendiri dengan kemajuan anda.


PENTINGNYA NILAI YANG TINGGI

Seperti di jelaskan di atas bahwa nilai yang tinggi memaksa anda untuk bertahan.seo- rang juara bulutangkis,akan bekerja keras agar pertandingan berikutnya di menangkan lagi.nah,selalu ingat dan yakinkan diri anda bahwa anda akan selalu mencari nilai yang tinggi,dengan cara-cara yang jujur.


KEPUASAN BELAJAR

Kalau anda belajar merasa di paksa,pertanda akan kurangnya motivasi.pertama kali anda mempelajari sesuatu,bolehlah merasa terpaksa.akan tetapi,makin lama anda peajari,anda akan mendapatkan kepuasan tersendiri.oleh karnanya,mulailah belajar dari topik yang sangat menarik buat anda.begitu anda merasa kecanduan,maka mulailah belajar topik yang lain.

CARA TEHNIK BELAJAR SEDIKIT DENGAN HASIL BESAR

Anda pasti punya bakat terpendam.bakat ini akan anda temukan jika anda memperhatikan dan selalu mengevaluasi hasil karya anda.temukan tehnik,waktu dan lingkungan belajar yang memberi hasil maksimal bagi anda.


KETAHUI DIMANA POSISI ANDA DI DALAM KELAS

Dengan mengetahui posisi anda di dalam kelas,anda dapat menentukan target/obyektif yang harus anda capai.kalau anda sekarang berada pada rangking 35,anda bisa bikin target untuk berada di rangking 20 pada semester yang akan datang.kemudian rangking 15 dan seterusnya.

Selasa, April 15, 2008

Dilema guru mendisiplinkan siswa

Ada berita menarik pada tampilan Suara Pantura 8 maret 2008 tentang SMUN 3 ( mestinya SMAN 3 ) Brebes berjudul “ Yudianto Juara Cipta Mars Pilgub “. Beritanya kecil dan kalau hanya baca judulnya saja, orang tidak tahu bahwa Yudi adalah guru SMAN 3 Brebes. Sementara di sebelahnya terpampang lebar hamper setengah halaman, gambar dan judul yang begitu besar “ Ratusan Siswa SMUN 3 Brebes Demo “.

Disinilah ( mungkin ) teknik pemberitaan media agar menarik pembacanya. Yang baik cukup sisipkan sedang yang negative ditonjolkan. Orang lebih suka membaca berita negative daripada positif. Terlepas adil atau tidak ( balance), saya ingin menyoroti masalah pendisiplinan dan penertiban siswa di sekolah.

Di sebuah SMPN pernah terjadi orang tua / wali murid minta ganti celana yang digunting guru gara – gara tidak sesuai dengan aturan seragam sekolah meski sudah tertera dalam tata tertib yang dipasang di tiap kelas dan setiap upacara berkali-kali diperingatkan. Namun orang tua / wali siswa tersebut tetap meminta ganti dengan berbagai intimidasi.

Tanpa bermaksud mendukung kekerasan fisik di sekolah, mari amati kedisiplinan dan ketertiban para siwqa dewasa ini. Angka keterlambatan, absensi, ketertiban berpakaian, terlebih sikap sopan santun serta etika pergaulan makin rendah. Bisa saja orang menuduh sekolah dan guru tidak tegas.

Tetapi bagaimana tayangan sinetron yang menjadi kiblat remaja dengan tampilan seragam yang tidak p[atut ? bagaimana para siswa yang berangkat dari rumah berangkat, tapi tidak sampai sekolah. Orang tua yang dipanggil untuk konfirmasi tidak hadir karena ibu di arab dan ayahnya di Jakarta.

Kalau ada guru tegas malah dimusuhi bahkan didemo tapi kalau dibiarkan akan bertambah parah akibatnya. Perlu kearifan berbagai pihak untuk mengatasi dilematis guru dalam mendisiplinkan siswa. Jangan sampai ada ungkapan, manakala anak pandai siapa bapaknya. Manakala anak bodoh, siapa sih gurunya ?


Oleh : Cahir Sanhapi

Bulusari 113 RT 1/RW. I bulakamba, Brebes

Sekolah Internasional Vs Konvensional

SECARA berseloroh, seorang pendidik mengemukakan hal yang bisa menyentak, "Kalau ingin cepat kaya, buatlah sekolah." Alasannya, semua orang menginginkan pendidikan yang baik. Dan, bila kita bisa menciptakan sekolah yang baik, lembaga ini bisa menjadi tempat yang amat strategis untuk bisnis. Dengan kata lain, sekolah bisa dibisniskan karena masyarakat membutuhkannya.

TIDAK percaya? Lihat saja, mana ada sekolah yang tidak laku. Dengan promosi sedikit saja, sekolah pasti laku. Apalagi kalau disertai dengan berbagai embel-embel, pasti laku. Ini berbeda dengan bisnis barang, yang ada kemungkinan tidak laku, kata pendidik itu.

"Tidak hanya itu. Semakin sekolah itu berbiaya mahal, ia semakin laku. Semakin sekolah dikatakan plus atau berbau internasional, semakin banyak orang tergiur untuk memasukinya. Maka, dalam masyarakat kita mulai muncul, kalau sesuatu itu bermutu, maka harus ada ISO-nya. Sekolah juga begitu. Selain ISO, kalau mungkin, sekolah juga memberi embel-embel internasional," kata pendidik itu menambahkan.

Dalam kenyataannya, begitu banyak sekolah, di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota besar lain, yang menambah kata "internasional" sebagai "nilai jual" saat melakukan promosi dan akan menjaring calon mahasiswa. Bahkan, ada sejumlah sekolah yang kabarnya melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri.

"Memang, ada sekolah yang bermisi mencerdaskan anak bangsa, tetapi ada juga sekolah yang tidak menghiraukan hal itu dengan membuat program-program yang bagus agar orang tertarik. Karena itu, pada sekolah-sekolah seperti itu kini selain ada direktur atau kepala sekolah, juga ada orang yang diserahi tugas marketing atau pemasaran. Artinya apa? Dengan munculnya istilah atau gaya bisnis, suasana bisnis sudah mulai banyak dipakai dalam dunia pendidikan," ujar Drs E Baskoro Poedjinoegroho MA, Direktur Sekolah Menengah Atas (SMA) Kanisius Jakarta.

ATAS munculnya sekolah-sekolah yang kabarnya menggunakan standar internasional dan menarik uang masuk mulai dari Rp 30 juta hingga Rp 60 juta dan uang sekolah Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan, masih mengemban misi ingin mencerdaskan bangsa? Entahlah. Namun, fenomena baru yang muncul di masyarakat justru sekolah-sekolah seperti itu yang kini malah laku. Lakunya sekolah seperti itu umumnya karena menggunakan bahasa asing sebagai pengantar, jumlah siswa yang kecil untuk tiap kelas, dan fasilitas yang canggih.

Salahkah mereka membuat sekolah-sekolah "canggih"? Tentu saja tidak. Sekolah-sekolah itu diadakan juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Pandangan masyarakat atas pendidikan pun kini sudah berubah. Masyarakat mulai pragmatis. Anakku harus pandai, maka ia harus masuk sekolah yang bagus, dan nanti masuk perguruan tinggi yang bagus pula. Ketika selesai, diharapkan bisa bekerja di tempat yang bagus, menduduki posisi bagus, dan (ini yang penting) kaya. Ini berarti, sekolah menjadi tempat pelatihan keterampilan agar bisa masuk dunia kerja yang memberi jaminan hidup yang bagus.

Akibat lebih lanjut, yang dipilih di perguruan tinggi adalah jurusan favorit. Di tahun 1960-an, ada pandangan, dokter sebagai profesi yang banyak menghasilkan uang sekaligus mengangkat gengsi keluarga. Anak-anak pun didorong masuk kedokteran. "Itu sebabnya, pada tahun 1960-an, kebanyakan lulusan Kanisius menjadi dokter," kata Baskoro.

Setelah dokter, ganti insinyur naik daun, disusul manajemen perbankan agar bisa masuk bank-bank yang bermunculan. Namun, saat banyak bank sekarat, nasib mereka ikut terombang-ambing. Kini, teknologi informasi sedang ngetren.

Melihat kenyataan itu, tuntutan antara sekolah dan kebutuhan pasar mulai terwujud dalam sekolah-sekolah "canggih" tersebut. Meski demikian, tetap muncul gugatan atas sekolah-sekolah "canggih" itu. Benarkah mereka ikut mencerdaskan bangsa, mendorong kemandirian dan sosialisasi anak, melatih kerja sama anak, dan menghargai perbedaan? Mengingat untuk bisa masuk ke sekolah-sekolah "canggih" itu sudah ada semacam batasan-paling tidak uang masuk yang jutaan dan uang sekolah yang tinggi-mau tidak mau, anak hanya bertemu dengan teman-teman dari kelas ekonomi yang hampir sama.

Selain itu, pada sekolah-sekolah ini, umumnya, anak boleh memilih pelajaran yang disukai saja sehingga memudahkan guru untuk memacu anak mendapat pengetahuan dan nilai yang maksimal. Jumlah siswa yang kecil membuat komunikasi guru dengan murid pun menjadi amat intens. Dengan kata lain, tuntutan akademis tidak seketat pada sekolah-sekolah konvensional.

Sebaliknya, para pengelola sekolah-sekolah "canggih" itu juga mempunyai mengapa dibuat sekolah seperti itu. "Sekolah-sekolah ini merupakan jawaban atas ketidakpuasan masyarakat atas pendidikan kita. Tuntutan globalisasi mendorong mereka untuk membuat sekolah seperti itu. Kalau tidak, kita akan tergulung," ujar Anita Lie, pengamat pendidikan.

MELIHAT perkembangan dunia pendidikan seperti itu, tidaklah mengherankan bila sejumlah sekolah pun digunakan standar seperti pada dunia industri. Kalau sesuatu itu bermutu, ia harus ada ISO-nya. Kini, sekolah akan dikatakan bermutu dan bertaraf internasional bila menggunakan International Baccalaureate (IB). Pengelola sekolah yang mengikuti program IB mengemukakan, sekolahnya akan meluluskan siswa berstandar pendidikan internasional. Para lulusan memiliki hak untuk diterima masuk sekolah dalam satu negara atau di negara lain yang mempunyai standar dan menggunakan program IB.

"Mereka tak perlu lagi tes masuk karena standar mutu di sekolah peserta IB sama," kata Hari Harjanto, Sekretaris Eksekutif Sekolah Ciputra Surabaya. Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Education Operation Manager Sekolah Tiara Bangsa Elisabeth.

Pada tahun 2001, Sekolah Tiara Bangsa mendapat otorisasi sebagai sekolah yang memakai IB dari IBO (International Baccalaureate Organization) yang berpusat di Genewa, Swiss, untuk taman kanak-kanak (primary years program) usia 3 tahun hingga kelas V sekolah dasar dan tingkat middle years program untuk siswa kelas V hingga SMA kelas I. Boleh dikatakan, Sekolah Tiara Bangsa merupakan sekolah pertama di Indonesia yang mendapat sertifikat dari IBO.

"Tahun ini kami baru membuka kelas II SMA sehingga belum ada program IB untuk diploma," ujar Elisabeth, seraya menambahkan, program ini dilakukan untuk membantu masyarakat yang menginginkan sekolah bertaraf internasional tanpa harus melepaskan anaknya ke luar negeri. Ini dimaksudkan untuk membantu pemerintah agar tidak banyak devisa "lari" ke luar negeri.

FENOMENA orang belajar di luar negeri ini sebenarnya sudah ada lama. Bahkan diperkirakan, lebih dari 2.500 anak setiap tahun belajar ke luar negeri. Berangkat dari kenyataan ini, tahun 1990-an, orang beramai-ramai mendirikan sekolah ber-trade mark internasional. Kondisi sekolah umumnya megah, fasilitas komplet.

Meski demikian, sekolah internasional tak hanya memerlukan fasilitas lengkap dengan gedung megah, tetapi juga membutuhkan kurikulum berbobot, guru berkompeten yang mampu memotivasi anak untuk berpikir dan bertindak kreatif, dan bertabiat baik. Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa sekolah mulai mengadopsi sistem pembelajaran dari "Barat", misalnya dari Australia.

Menurut Hari Harjanto, sekolahnya sebelumnya mengikuti sistem VCS (victory curriculum system) yang berpusat di Negara Bagian Victoria, Australia, tetapi cakupannya belum sebesar IB yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia, dan sebagian besar berada di negara maju. Keputusan mengikuti IBO, kata Hari, guna menampung keinginan orangtua agar anaknya mendapat pendidikan terbaik seperti jika bersekolah di luar negeri.

Menurut website IBO, kini ada 18 sekolah di Indonesia yang bergabung dengan organisasi internasional itu. Selain Sekolah Tiara Bangsa, tercatat Cita Hati Christian High School, Sekolah Pelita Harapan, sekolah internasional di Bali, Bandung, Bogor, Medan, dan Jakarta juga sudah bergabung. Dan, jumlah sekolah di Indonesia pemakai program IB akan terus bertambah. Sekolah Ciputra Surabaya, misalnya, sudah merintis pengurusan agar dapat mengikuti program itu untuk tahun ajaran 2003-2004. (Soelastri Soekirno/ tonny d widiastono)

http://64.203.71.11/kompas-cetak/0406/17/PendDN/1090014.htm

Kamis, April 10, 2008

Penggunaan IT Dalam Dunia Pendidikan

Arti IT bagi dunia pendidikan seharusnya berarti tersedianya saluran atau sarana yang dapat dipakai untuk menyiarkan program pendidikan. Namun hal Pemanfaatan IT ini di Indonesia baru memasuki tahap mempelajari berbagai kemungkinan pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan memasuki milenium ketiga ini. Padahal penggunaan IT ini telah bukanlah suatu wacana yang asing di negeri Paman Sam Sana. Pemanfaatan IT dalam bidang pendidikan sudah merupakan kelaziman di Amerika Serikat pada dasawarsa yang telah lalu. Ini merupakan salah satu bukti utama ketertinggalan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa di dunia. Berikut ini ialah sampel-sampel dari luar negeri hasil revolusi dari sistem pendidikan yang berhasil memanfaatkan Teknologi Informasi untuk menunjang proses pembelajaran mereka: 1. SD River Oaks di Oaksville, Ontario, Kanada, merupakan contoh tentang apa yang bakal terjadi di sekolah. SD ini dibangun dengan visi khusus: sekolah harus bisa membuat murid memasuki era informasi instan dengan penuh keyakinan. Setiap murid di setiap kelas berkesempatan untuk berhubungan dengan seluruh jaringan komputer sekolah. CD-ROM adalah fakta tentang kehidupan. Sekolah ini bahkan tidak memiiki ensiklopedia dalam bentuk cetakan. Di seluruh perpustakaan, referensinya disimpan di dalam disket video interktif dan CD-ROM-bisa langsung diakses oleh siapa saja, dan dalam berbagai bentuk: sehingga gambar dan fakta bisa dikombinasikan sebelum dicetak;foto bisa digabungkan dengan informasi. 2. SMU Lester B. Pearson di Kanada merupakan model lain dari era komputer ini. Sekolah ini memiliki 300 komputer untuk 1200 murid. Dan sekolah ini memiliki angka putus sekolah yang terendah di Kanada: 4% dibandingkan rata-rata nasional sebesar 30% 3. Prestasi lebih spektakuler ditunjukkan oleh SMP Christopher Columbus di Union City, New Jersey. Di akhir 1980-an, nilai ujian sekolah ini begitu rendah, dan jumlah murid absen dan putus sekolah begitu tinggi hingga negara bagian memutuskan untuk mengambil alih. Lebih dari 99% murid berasal dari keluarga yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Bell Atlantic- Sebuah perusahaan telepon di daerah itu membantu menyediakan komputer dan jaringan yang menghubungkan rumah murid dengan ruang kelas, guru, dan administrator sekolah. Semuanya dihubungkan ke Internet, dan para guru dilatih menggunakan komputer pribadi. Sebagai gantinya, para guru mengadakan kursus pelatihan akhir minggu bagi orangtua. Dalam tempo dua tahun, baik angka putus sekolah maupun murid absen menurun ke titik nol. Nilai ujian-standar murid meningkat hampir 3 kali lebih tinggi dari rata-rata sekolah seantero New Jersey. Informasi yang diwakilkan oleh komputer yang terhubung dengan internet sebagai media utamanya telah mampu memberikan kontribusi yang demikian besar bagi proses pendidikan. Teknologi interaktif ini memberikan katalis bagi terjadinya perubahan medasar terhadap peran guru: dari informasi ke transformasi. Setiap sistem sekolah harus bersifat moderat terhadap teknologi yang memampukan mereka untuk belajar dengan lebih cepat, lebih baik, dan lebih cerdas. Dan Teknologi Informasi yang menjadi kunci untuk menuju model sekolah masa depan yang lebih baik. Namun usaha-usaha dari anak-anak bangsa juga terus dilakukan untuk mengejar ketertinggalan bangsa Indonesia dalam hal penyampaian proses pendidikan dengan penggunaan IT. Semisalnya, baru-baru ini Telkom, Indosat, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) menyatakan kesiapannya untuk mengembangkan IT untuk pendidikan di Indonesia, dimulai dengan proyek-proyek percontohan.Telkom menyatakan akan terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas infrastruktur jaringan telekomunikasi yang diharapkan dapat menjadi tulang punggung (backbone) bagi pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan serta implementasi-implementasi lainnya di Indonesia. Bahkan, saat ini Telkom mulai mengembangkan teknologi yang memanfaatkan ISDN (Integrated Sevices Digital Network) untuk memfasilitasi penyelenggaraan konferensi jarak jauh (teleconference) sebagai salah satu aplikasi pembelajaran jarak jauh. Banyak aspek dapat diajukan untuk dijadikan sebagai alasan-alasan untuk mendukung pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan dalam kaitannya dengan peningkatan kualitas pendidikan nasional Indonesia. Salah satu aspeknya ialah kondisi geografis Indonesia dengan sekian banyaknya pulau yang terpencar-pencar dan kontur permukaan buminya yang seringkali tidak bersahabat, biasanya diajukan untuk menjagokan pengembangan dan penerapan IT untuk pendidikan. IT sangat mampu dan dijagokan agar menjadi fasilitator utama untuk meratakan pendidikan di bumi Nusantara, sebab IT yang mengandalkan kemampuan pembelajaran jarak jauhnya tidak terpisah oleh ruang, jarak dan waktu. Demi penggapaian daerah-daerah yang sulit tentunya diharapkan penerapan ini agar dilakukan sesegera mungkin di Indonesia.

Pilihan Metode Mengajar yang Efektif


A. Hubungan Tujuan Pembelajaran dengan Metode Mengajar

Metode mengajar merupakan salah satu komponen yang harus ada dalam kegiatan pembelajaran. Pada dasarnya metode mengajar merupakan cara/teknik yang digunakan guru dalam melakukan interaksi dengan siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.

Ada beberapa prisip yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode mengajar, yang berkaitan dengan fakta perkembangan kemampuan siswa, diantaranya:[1]
1. Metode mengajar harus memungkinkan dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa lebih jauh terhadap materi pembelajaran (curiosity).
2. Metode mengajar harus memungkinkan dapat memberikan peluang untuk berekspresi.
3. Metode mngajar harus memungkinkan siswa belajar melalui pemecahan masalah.
4. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk selalu ingin menguji kebenaran sesuatu (sikap skeptis).
5. Metode mengajar harus memungkinkan siswa mampu menyimak.
6. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar mandiri (independent study).
7. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk belajar secara bekerja sama.
8. Metode mengajar harus memungkinkan siswa untuk lebih termotivasi dalam belajarnya.

Prinsip-prinsip tersebut dalam prosesnya merupakan karakteristik dari masing-masing metode mengajar. Penggunaan metode mengajar dalam pembelajaran ditinjau dari segi prosesnya memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:[2]
Sebagai alat atau cara untuk mencapai tujuan pembelajaran. Setiap pembelajaran harus bertujuan, sehingga dalam proses pembelajarannya akan memerlukan suatu cara dan teknik yang efektif yang memungkinkan dapat mencapai tujuan tersebut.
Sebagai gambaran aktivitas yang harus ditempuh oleh siswa dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Tahapan-tahapan kegiatan belajar mengajar pada dasarnya adalah proses atau prosedur penggunaan metode-metode dengan yang digunakan dalam pembelajaran tersebut.
Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan alat penilaian pembelajaran. Karakteristik metode mengajar dapat dijadikan pertimbangan untuk penilaian, misalnya kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode ceramah, tanya jawab akan berbeda penilaiannya dengan metode demonstrasi atau latihan/praktek.
Sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan bimbingan dalam kegiatan pembelajaran, apakah dalam kegiatan pembelajaran tersebut perlu diberikan bimbingan secara individu atau kelompok.

Memperhatikan beberapa prinsip dan fungsi metode mengajar di atas, metode mengajar sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru dalam melaksanakan pembelajaran harus secara analisis dan fleksibel dalam menentukan metode apa yang harus digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien.
[1] Toto Ruhimat dkk, Strategi Belajar Mengajar, Cet. 14 (November 2004), Jakarta: Universitas Terbuka, hal 4.4.
[2] Asep Herry Hermawan dkk, Strategi belajar mengajar, Cet. 14 (November 2004), Jakarta: Universitas Terbuka.



by : Munadhirin

Sabtu, April 05, 2008

ADA APA DENGAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN KITA ?

Oleh : Rizki Riyadu Topeq
(Pengkaderan PP IPNU)

Wacana pendidikan merupakan suatu wacana populis (merakyat) yang tidak mungkin ada habisnya di negeri ini. Berbagai asumsi dan opini yang menjadi wacana mengenai pendidikan, banyak muncul terkait dengan nasib pendidikan kita yang selama ini masih dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Permasalahan-permasalahan seperti terlalu minimnya fasilitas pendidikan, mahalnya biaya pendidikan dan rendahnya kualitas pendidikan di negeri ini, merupakan pekerjaan rumah yang serius bagi pemerintah kita. Selama ini berbagai kebijakan dan terobosan telah dilakukan pemerintah untuk mendongkrak kemajuan pendidikan di negeri ini, namun hal tersebut hingga kini belum mampu memperlihatkan hasil yang sempurna, masih banyak permasalahan-permasalahan pendidikan yang harus dibenahi atau bahkan dirombak total. Dari sebab itu dalam tulisan ini redaksi berusaha sedikit mengurai mengenai beberapa hal terkait dengan kondisi pendidikan di Indonesia.
Problem Pemerintah Dalam Penerapan Kebijakan Pendidikan
Selama kurun tahun 2006 pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan terkait dengan pendidikan di Indonesia, salah satunya adalah kebijakan BOS (bantuan Operasional Sekolah) dan penerapan standar kelulusan UN sebagai upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut mampu menjadi solusi bagi kemajuan pendidikan di Indonesia? Karena pada tataran realitas, selama ini nasib pendidikan di Indonesia kalau tidak dikatakan mundur berarti masih tetap berjalan di tempat.
Ada dua hal mungkin yang bisa menjadi sorotan terkait kurang optimalnya pemerintah dalam membenahi sistem pendidikan nasional di Indonesia. Yang pertama, adalah harus adanya penerapan kebijakan yang berbasiskan pada realitas pendidikan. Penerapan kebijakan yang berbasiskan realitas merupakan suatu hal yang wajib menjadi landasan dalam setiap kebijakan pendidikan. Karena realitas mampu menampilkan kondisi pendidikan yang sesungguhnya.
Basis realitas pendidikan yang dimaksud adalah basis realitas pendidikan yang diambil secara komprehensif (menyeluruh) dan objektif yang terdapat pada seluruh daerah di Indonesia. Faktor komprehensifitas dan objektifitas ini menjadi prinsip utama dalam penerapan kebijakan yang berbasiskan realitas, karena dari kedua prinsip ini gambaran realitas pendidikan di Indonesia tidak akan menjadi abu-abu dan sempit. Dari sinilah kemudian kebijakan-kebijakan baru bisa diterapkan.
Kemudian yang kedua, adalah peran pemerintah dalam melakukan pengawasan dan kontrolling terkait dengan penerapan kebijakan-kebijakan pendidikannya. Peran pemerintah dalam melakukan pengawasan kebijakannya tersebut menempati posisi yang sangat urgen pada tataran keberhasilan penerapan kebijakannya tersebut. Selama ini, hal yang paling rapuh dan lemah dalam usaha memajukan pendidikan di Indonesia adalah tidak adanya pengawasan yang ketat dari pemerintah pusat terkait dengan kebijakan-kebijakannya. Hal tersebut kemudian bisa melahirkan penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan para oknum di daerah-daerah yang merasa leluasa tanpa adanya pengawasan dari pusat.
Suatu contoh adalah dengan adanya kebijakan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang selama setahun terakhir ini menjadi sorotan berbagai kalangan pemerhati pendidikan di Indonesia. Pidato Presiden SBY pada Rapat Paripurna DPR Agustus 2006 yang menyatakan bahwa pemerintah telah mendistribusiskan BOS ke 29,4 Juta murid SD dan 10,5 Juta murid SMP, pada perspektif pemerintah pusat hal itu mungkin merupakan suatu terobosan yang spektakuler dan menjadi parameter bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Namun, bagi sebagian kalangan pemerhati pendidikan hal tersebut hanya merupakan setitik kemajuan yang hanya dapat dilihat dari segi jumlah atau kuantitas umum saja. Karen pada tataran praksis di lapangannya distribusi dana BOS yang disampaikan Presiden SBY tersebut belum mampu secara utuh meringankan beban biaya pendidikan masyarakat. Karena lagi-lagi hal yang substansialnya meringankan beban biaya pendidikan tersebut, justru oleh beberapa kelompok oknum di daerah-daerah dimanfaatkan sebagai lahan baru bagi praktek-praktek korupsi dan rekayasa untuk melahirkan biaya-biaya baru yang diperuntukkan kepada murid di luar biaya BOS.
Jadi, pada satu sisi ada upaya pemerintah meringankan beban biaya pendidikan masyarakat dan pada sisi lainnya ada upaya beberapa oknum untuk menciptakan tarikan beban biaya baru di luar BOS yang harus ditanggung oleh masyarakat. Ketumpangtindihan dan rekayasa model baru inilah yang terjadi pada masyarakat kita. Hal tersebut bisa terjadi karena kurangnya pengawasan pemerintah pusat dalam mengawal kebijakan-kebijakannya, yang akhirnya mengakibatkan masyarakat menjadi korban beban biaya pendidikan terus-menerus.
UAN dan UN
Sebagai sebuah upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, sejak tahun ajaran 2002/2003 pemerintah menggalakkan kebijakan UAN (Ujian Akhir Nasional) sebagai standarisasi nilai kelulusan secara nasional. Kebijakan ini sejak digulirkan hingga kini menjadi polemik tersendiri bagi kalangan pemerhati pendidikan di Indonesia, bahkan bagi pihak kementrian pendidikan nasional sendiri pun harus disibukkan dengan kebijakannya ini.
Pokok permasalahan dalam kebijakan UAN adalah pada tahap standarisasi nilai kelulusan yang ditetapkan oleh pemerintah. Semenjak pertama UAN digulirkan standard nilai yang diterapkan oleh pemerintah adalah 3,01. Kemudian, pasca UAN diganti dengan UN (Ujian Nasional) standar nilai kelulusan semakin meningkat dengan nilai 4.01 (2004/2005), kemudian meningkat lagi pada tahun berikutnya menjadi 4,26 (2005/2006).
Standar nilai kelulusan ini ditetapkan dan disesuaikan dengan target yang diidealkan pemerintah. Pemerintah mengharap bahwa dengan penerapan sistem standar nilai kelulusan ini, pemerintah dapat mengangkat mutu pendidikan di Indonesia. Hal tersebut kemudian menjadi sangat kontradiktif dengan apa yang ada pada pandangan pemerhati pendidikan di Indonesia atau bahkan dalam kacamata masyarakat itu sendiri. Bagi para pemerhati pendidikan, UN merupakan kesalahan interpretasi pemerintah dalam memahami evaluasi dari standard pendidikan nasional.
Seperti apa yang disampaikan oleh Deni Hadiana (Perekayasa Pendidikan Litbang Diknas), bahwa ada dua hal yang harus diperhatikan pemerintah terkait dengan UN. Pertama, kesalahpahaman interpretasi terhadap UU Nomor 20 Tahun 2003 (UU Sisdiknas). Dan yang kedua, adalah UN belum mampu mencerminkan keadilan bagi peserta didik, hal tersebut bisa dilihat dari masih tingginya disparitas mutu pendidikan antar satu sekolah dengan sekolah lainnya, yang kemudian bisa melahirkan persaingan yang tidak sehat antar sekolah atau bahkan pihak sekolah akan melakukan kecurangan-kecurangan demi mencapai target standar kelulusan UN.
Di samping itu, pada wilayah masyarakat dan pelaku pendidikan, standar UN seakan-akan menjadi “momok” yang menakutkan. Banyak orang tua siswa dan pelaku pendidikan yang menjadi gelisah setiap menjelang UN. Bahkan beberapa siswa harus mengalami shocktrauma dalam menghadapi UN.
Dari uraian tersebut, mungkin terdapat beberapa hal yang memang harus disikapi baik oleh pemerintah, pengamat pendidikan, sekolah dan para orang tua murid, terkait dengan UN. Yang pertama, perlunya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Kedua, perlu diterapkannya tahapan dalam menerapkan standar UN yang berbasis sekolah dan psikologi siswa. Dan yang terakhir adalah adanya pengawasan yang kontinyu baik oleh pemerintah maupun masyarakat terhadap realisasi dari UN tersebut.
Penutup
Dari berbagai uraian di atas tersebut ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan sebagai bahan refleksi bagi kita dalam melihat perkembangan nasib pendidikan di Indonesia. Setidak-tidaknya ada benang merah yang bisa kita usut dalam menyikapi nasib pendidikan di Indonesia. Dan bisa menjadi landasan dalam menyikapi pendidikan secara arif, agar seluruh kalangan bisa menyadari akan arti vital dari pendidikan. Bukankah pepatah lama selalu mengatakan bahwa ilmu itu adalah cahaya bagi kehidupan. Jadi pendidikan adalah pilar dasar bagi kemajuan Indonesia pada masa yang akan datang.

Geng Motor dan Kegagalan pendidikan


Oleh: IDY MUZAYYAD, M.SI

Belakangan ini mncul fenomena geng motor di kalangan anak muda, khususnya remaja kita.Meskipun sama sekali bukan hal baru,namun geng motor mencuat ke publik berkenaan dengan isu dan praktek kekerasan yang lekat dengannya. Sebenarnya bila remaja berkumpul dan berkelompok, itu merupakan hal yang lumrah. Masalahnya adalah ketika berkumpulnya mereka itu mengarah pada hal yang destruktif. Sebagaimana lazimnya manusia,kalangan remaja juga membutuhkan komunitas untuk berkomunikasi dan bersosialisasi. Mereka akan merasa nyaman untuk berkomunikasi dengan sesama, dalam artian usia yang sama lebihlebih dengan kecenderungan dan hobi yang sama pula.Interes yang sepadan akan menguatkan jalinan serta ikatan emosional antar sesame anggota yang berada dalam satu grup.

Geng motor dan geng-geng remaja lain pada awalnya merupakan jawaban nyata dari kebutuhan kaum remaja atas wadah komunikasi antar sesama tadi. Remaja-remaja yang punya back ground sama: memiliki sepeda motor dan suka ber-‘motor ria’.Pada perkembangannya, setelah mereka berkumpul dalam sebuah geng,mereka akan mengisi perkumpulan itu dengan aktivitas.Di sinilah masalah mulai muncul.Pemilihan terhadap aktivitas apa yang akan dijadikan materi kelompok akan menentukan bagaimana warna geng itu ke depan. Tidak semua geng motor mempunyai tujuan baik,atau bahkan jangan-jangan ada geng motor yang memang mempunyai tujuan tidak baik semenjak awalnya.

Lebih parah lagi,bila tujuan yang kurang atau tidak baik itu memang telah ditetapkan dan disepakati bersama anggota geng untuk dilaksanakan. Patut diduga,remaja-remaja memilih geng motor sebagai saluran organisasinya karena organisasi-organisasi remaja yang sudah establish barangkali tidak mampu untuk mewadahi mereka.Atau lebih dari itu,organisasi bersegmen remaja tidak bisa menjangkau dan melayani kebutuhan mereka.Remaja adalah masa di mana mereka membutuhkan wadah untuk berapresiasi dan berekspresi.Sepanjang organisasi remaja tidak mampu memenuhi itu,maka ia akan ditinggalkan. Menurut psikologi perkembangan, kebanyakan anak remaja belum punya pikiran jauh dan panjang.

Mereka lebih suka memikirkan hal-hal yang dekat, terjangkau dan berbau senang-senang atau fun.Hal itu masih wajar bila mereka tidak terjerembab pada pilihan-pilihan yang jelas-jelas negatif.Remaja memang memiliki dunianya sendiri yang berbeda dengan dunia dewasa dan orang tua.Yang diperlukan adalah kontrol dan pengarahan mereka untuk selalu berada pada ‘jalan yang benar’. Pun kebenaran itu tidak harus diperspektifkan sebagai hal yang kaku dan tidak berwarna.Biarlah remaja tetap berada dalam dunia keremajaan dan keceriannya, sepanjang dalam batasan yang tidak kebablasan (musrif).Toh,remaja pada dasarnya juga mempunyai naluri sehatnya sendiri versi mereka,sungguhpun bagi kalangan tua (yang kolot) kadang banyak hal yang dilakukan remaja hari ini tampak asing,aneh dan dianggap melanggar.

Remaja adalah pribadi-pribadi yang gelisah.Posisi organisasi remaja seharusnya mampu menjadi ‘pelarian’ (dalam artian positif) bagi kegelisahan mereka. Para remaja banyak yang merasa kesepian dan membutuhkan pendamping, di luar orang tua dan guru mereka. Apalagi dalam satu kasus ketika orang tua tidak cukup waktu untuk berkomunikasi dengan anak-anak,dan guru hanya bisa mengajarkan mata pelajaran secara teks book semata. Organisasi remaja semisal Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU),Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM),Pelajar Islam Indonesia (PII),Remaja Masjid, Karang Taruna dan sebagainya harus mampu melakukan reorientasi program dan kegiatan yang mempunyai sense kuat terhadap kebutuhan remaja. Kalau ini terpenuhi,maka remaja-remaja kita akan merasa memiliki teman yang mengasikkan namun sekaligus mampu memberikan guidance.

Kegagalan Pendidikan Maraknya geng motor yang bersifat destruktif dilihat dari sudut pandang lain juga merupakan wujud kekagalan dari pendidikan kita.Betapa para pelajar kita tidak cukup hanya diajari mata pelajaran tertentu,atau hanya didorong hanya untuk lulus ujian.Pelajar dan remaja membutuhkan sesuatu yang lebih dari itu: moral dan etika secara practical.

Karenanya,pendidikan harus kembali benar-benar diarahkan untuk tidak sekedar menggenjot capaian-capaian pada aspek kognitif semata,namun harus diseimbangkan dengan aspek afeksi dan psikomotorik.Nilai bagus memang penting,namun tentu tidak hanya itu.Pengajaran dan pemantauan terhadap budipekerti pelajar juga tidak kalah penting untuk dilakukan secara intensif. Bagaimana dengan Ujian Nasional (UN)? UN dalam satu sisi memang mampu memicu siswa untuk belajar.Namun pertanyannya,apakah itu terjadi karena terpaksa atau memang kerelaan.Analisa sementara,pelajar kita cenderung terpaksa.Karena itu mereka merasa stress dan tertekan.Kondisi stress inilah yang kemudian mengarahkan para pelajar dan remaja untuk mencari pelampiasan dan ruang untuk refreshing. Informasi soal kenaikan nilai UN dari mnimal 5 menjadi 5,25 mau tidak mau akan semakin menambaha rasa stress itu.

Dan semakin mereka stress,tuntutan dari dalam diri untuk mencari tempat pelarian akan semakin besar.Termasuk penambahan mata pelajaran yang diujikan dari hanya tiga pelajaran menjadi enam pelajaran. Pada sebuah kesempatan auidensi dengan Wapres Jusuf Kalla,kepada penulis beliau menyatakan kegembiraannya akan keberhasilan UN memacu siswa untuk belajar dan terpaksa belajar sehingga tidak punya waktu untuk tawuran dan sebagainya.

Makanya beliau sangat mendukung UN tetap dilaksanakan. Bahkan beliau sampai berucap, ‘Kalau ada siswa yang sampai bakar sekolah gara-gara UN,maka saya akan bangun sekolah yang lebih bagus lagi’. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang seharusnya mampu mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan zaman.Kesiapan itu tentu bukan semata pada wilayah capaian nilai formal. Maka sekolah harus mampu melihat dan memperlakukan pelajar sebagai pribadi yang utuh.

Tidak pas kalau sekolah hanya menuntut siswanya untuk belajar dan belajar untuk memenuhi targetan angka-angka.Karena para pelajar harus dikenalkan untuk mempelajari kehidupan yang sesungguhnya. Dus,kondisi terpaksa dan tertekan pelajar tetap berlangsung,maka ini jelas tidak akan menyehatkan.Bagaimana mungkin kondisi tertekan akan melahirkan generasi yang cerdas dan tanggap lingkungan? Kalau hal semacam ini akan tetap dipertahankan,maka kita patut khawatir bila geng motor dengan aura kekerasannya akan semakin marak.Semoga tidak.

(*) IDY MUZAYYAD, M.SI Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama