Tampilkan postingan dengan label akhlaq. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akhlaq. Tampilkan semua postingan

Selasa, April 15, 2008

Sekolah Internasional Vs Konvensional

SECARA berseloroh, seorang pendidik mengemukakan hal yang bisa menyentak, "Kalau ingin cepat kaya, buatlah sekolah." Alasannya, semua orang menginginkan pendidikan yang baik. Dan, bila kita bisa menciptakan sekolah yang baik, lembaga ini bisa menjadi tempat yang amat strategis untuk bisnis. Dengan kata lain, sekolah bisa dibisniskan karena masyarakat membutuhkannya.

TIDAK percaya? Lihat saja, mana ada sekolah yang tidak laku. Dengan promosi sedikit saja, sekolah pasti laku. Apalagi kalau disertai dengan berbagai embel-embel, pasti laku. Ini berbeda dengan bisnis barang, yang ada kemungkinan tidak laku, kata pendidik itu.

"Tidak hanya itu. Semakin sekolah itu berbiaya mahal, ia semakin laku. Semakin sekolah dikatakan plus atau berbau internasional, semakin banyak orang tergiur untuk memasukinya. Maka, dalam masyarakat kita mulai muncul, kalau sesuatu itu bermutu, maka harus ada ISO-nya. Sekolah juga begitu. Selain ISO, kalau mungkin, sekolah juga memberi embel-embel internasional," kata pendidik itu menambahkan.

Dalam kenyataannya, begitu banyak sekolah, di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota besar lain, yang menambah kata "internasional" sebagai "nilai jual" saat melakukan promosi dan akan menjaring calon mahasiswa. Bahkan, ada sejumlah sekolah yang kabarnya melakukan kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri.

"Memang, ada sekolah yang bermisi mencerdaskan anak bangsa, tetapi ada juga sekolah yang tidak menghiraukan hal itu dengan membuat program-program yang bagus agar orang tertarik. Karena itu, pada sekolah-sekolah seperti itu kini selain ada direktur atau kepala sekolah, juga ada orang yang diserahi tugas marketing atau pemasaran. Artinya apa? Dengan munculnya istilah atau gaya bisnis, suasana bisnis sudah mulai banyak dipakai dalam dunia pendidikan," ujar Drs E Baskoro Poedjinoegroho MA, Direktur Sekolah Menengah Atas (SMA) Kanisius Jakarta.

ATAS munculnya sekolah-sekolah yang kabarnya menggunakan standar internasional dan menarik uang masuk mulai dari Rp 30 juta hingga Rp 60 juta dan uang sekolah Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan, masih mengemban misi ingin mencerdaskan bangsa? Entahlah. Namun, fenomena baru yang muncul di masyarakat justru sekolah-sekolah seperti itu yang kini malah laku. Lakunya sekolah seperti itu umumnya karena menggunakan bahasa asing sebagai pengantar, jumlah siswa yang kecil untuk tiap kelas, dan fasilitas yang canggih.

Salahkah mereka membuat sekolah-sekolah "canggih"? Tentu saja tidak. Sekolah-sekolah itu diadakan juga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan yang bermutu. Pandangan masyarakat atas pendidikan pun kini sudah berubah. Masyarakat mulai pragmatis. Anakku harus pandai, maka ia harus masuk sekolah yang bagus, dan nanti masuk perguruan tinggi yang bagus pula. Ketika selesai, diharapkan bisa bekerja di tempat yang bagus, menduduki posisi bagus, dan (ini yang penting) kaya. Ini berarti, sekolah menjadi tempat pelatihan keterampilan agar bisa masuk dunia kerja yang memberi jaminan hidup yang bagus.

Akibat lebih lanjut, yang dipilih di perguruan tinggi adalah jurusan favorit. Di tahun 1960-an, ada pandangan, dokter sebagai profesi yang banyak menghasilkan uang sekaligus mengangkat gengsi keluarga. Anak-anak pun didorong masuk kedokteran. "Itu sebabnya, pada tahun 1960-an, kebanyakan lulusan Kanisius menjadi dokter," kata Baskoro.

Setelah dokter, ganti insinyur naik daun, disusul manajemen perbankan agar bisa masuk bank-bank yang bermunculan. Namun, saat banyak bank sekarat, nasib mereka ikut terombang-ambing. Kini, teknologi informasi sedang ngetren.

Melihat kenyataan itu, tuntutan antara sekolah dan kebutuhan pasar mulai terwujud dalam sekolah-sekolah "canggih" tersebut. Meski demikian, tetap muncul gugatan atas sekolah-sekolah "canggih" itu. Benarkah mereka ikut mencerdaskan bangsa, mendorong kemandirian dan sosialisasi anak, melatih kerja sama anak, dan menghargai perbedaan? Mengingat untuk bisa masuk ke sekolah-sekolah "canggih" itu sudah ada semacam batasan-paling tidak uang masuk yang jutaan dan uang sekolah yang tinggi-mau tidak mau, anak hanya bertemu dengan teman-teman dari kelas ekonomi yang hampir sama.

Selain itu, pada sekolah-sekolah ini, umumnya, anak boleh memilih pelajaran yang disukai saja sehingga memudahkan guru untuk memacu anak mendapat pengetahuan dan nilai yang maksimal. Jumlah siswa yang kecil membuat komunikasi guru dengan murid pun menjadi amat intens. Dengan kata lain, tuntutan akademis tidak seketat pada sekolah-sekolah konvensional.

Sebaliknya, para pengelola sekolah-sekolah "canggih" itu juga mempunyai mengapa dibuat sekolah seperti itu. "Sekolah-sekolah ini merupakan jawaban atas ketidakpuasan masyarakat atas pendidikan kita. Tuntutan globalisasi mendorong mereka untuk membuat sekolah seperti itu. Kalau tidak, kita akan tergulung," ujar Anita Lie, pengamat pendidikan.

MELIHAT perkembangan dunia pendidikan seperti itu, tidaklah mengherankan bila sejumlah sekolah pun digunakan standar seperti pada dunia industri. Kalau sesuatu itu bermutu, ia harus ada ISO-nya. Kini, sekolah akan dikatakan bermutu dan bertaraf internasional bila menggunakan International Baccalaureate (IB). Pengelola sekolah yang mengikuti program IB mengemukakan, sekolahnya akan meluluskan siswa berstandar pendidikan internasional. Para lulusan memiliki hak untuk diterima masuk sekolah dalam satu negara atau di negara lain yang mempunyai standar dan menggunakan program IB.

"Mereka tak perlu lagi tes masuk karena standar mutu di sekolah peserta IB sama," kata Hari Harjanto, Sekretaris Eksekutif Sekolah Ciputra Surabaya. Keterangan yang sama juga disampaikan oleh Education Operation Manager Sekolah Tiara Bangsa Elisabeth.

Pada tahun 2001, Sekolah Tiara Bangsa mendapat otorisasi sebagai sekolah yang memakai IB dari IBO (International Baccalaureate Organization) yang berpusat di Genewa, Swiss, untuk taman kanak-kanak (primary years program) usia 3 tahun hingga kelas V sekolah dasar dan tingkat middle years program untuk siswa kelas V hingga SMA kelas I. Boleh dikatakan, Sekolah Tiara Bangsa merupakan sekolah pertama di Indonesia yang mendapat sertifikat dari IBO.

"Tahun ini kami baru membuka kelas II SMA sehingga belum ada program IB untuk diploma," ujar Elisabeth, seraya menambahkan, program ini dilakukan untuk membantu masyarakat yang menginginkan sekolah bertaraf internasional tanpa harus melepaskan anaknya ke luar negeri. Ini dimaksudkan untuk membantu pemerintah agar tidak banyak devisa "lari" ke luar negeri.

FENOMENA orang belajar di luar negeri ini sebenarnya sudah ada lama. Bahkan diperkirakan, lebih dari 2.500 anak setiap tahun belajar ke luar negeri. Berangkat dari kenyataan ini, tahun 1990-an, orang beramai-ramai mendirikan sekolah ber-trade mark internasional. Kondisi sekolah umumnya megah, fasilitas komplet.

Meski demikian, sekolah internasional tak hanya memerlukan fasilitas lengkap dengan gedung megah, tetapi juga membutuhkan kurikulum berbobot, guru berkompeten yang mampu memotivasi anak untuk berpikir dan bertindak kreatif, dan bertabiat baik. Dalam perkembangan selanjutnya, beberapa sekolah mulai mengadopsi sistem pembelajaran dari "Barat", misalnya dari Australia.

Menurut Hari Harjanto, sekolahnya sebelumnya mengikuti sistem VCS (victory curriculum system) yang berpusat di Negara Bagian Victoria, Australia, tetapi cakupannya belum sebesar IB yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia, dan sebagian besar berada di negara maju. Keputusan mengikuti IBO, kata Hari, guna menampung keinginan orangtua agar anaknya mendapat pendidikan terbaik seperti jika bersekolah di luar negeri.

Menurut website IBO, kini ada 18 sekolah di Indonesia yang bergabung dengan organisasi internasional itu. Selain Sekolah Tiara Bangsa, tercatat Cita Hati Christian High School, Sekolah Pelita Harapan, sekolah internasional di Bali, Bandung, Bogor, Medan, dan Jakarta juga sudah bergabung. Dan, jumlah sekolah di Indonesia pemakai program IB akan terus bertambah. Sekolah Ciputra Surabaya, misalnya, sudah merintis pengurusan agar dapat mengikuti program itu untuk tahun ajaran 2003-2004. (Soelastri Soekirno/ tonny d widiastono)

http://64.203.71.11/kompas-cetak/0406/17/PendDN/1090014.htm

Potret Pergaulan Era Global

Labibah Zain

WEB dan log (weblog) adalah media di mana pemiliknya menuliskan catatan pengalaman pribadi, opini berupa tulisan maupun gambar yang bisa terus diperbarui dan diakses melalui internet. Pemilik weblog-disebut weblogger-bebas mencurahkan pemikiran baik berupa tulisan maupun gambar di situ, melengkapi dengan desain yang diingini dan melengkapinya dengan fasilitas yang memungkinkan terjadinya interaksi antara pemilik dan pengunjung weblog-nya.

Pengunjung bisa memberi komentar terhadap isi weblog untuk menyatakan dukungan maupun kritik. Weblogger bisa juga memasang fasilitas shoutbox, di mana pengunjung bisa menyapa pemilik weblog tanpa harus takut ucapannya tak sesuai dengan posting di weblog-nya. Shoutbox lebih berfungsi sosial.

Weblog, yang pada awalnya merupakan tulisan-tulisan berupa What’s New dari seorang webmaster terhadap situs yang dibuatnya pada tahun 1993, kini berkembang pesat dengan berbagai variasinya. Pembuatnya bukan hanya webmaster, tetapi juga orang dari berbagai profesi. Bahkan, ibu rumah tangga pun ikut membuat weblog untuk berbagi pengalaman.

Blogger family (http://www.blogfam.com) yang berdiri sejak 6 Desember 2003 dengan anggota 850 orang merupakan salah satu wadah bagi para weblogger Indonesia. Sekitar 40 persen anggotanya ibu rumah tangga dan jumlah mereka semakin bertambah. Sebanyak 30 ibu rumah tangga berkewarganegaraan Indonesia di antaranya bersedia menjawab pertanyaan seputar fungsi dan manfaat weblog bagi kehidupan mereka yang saya paparkan berikut ini.

Catatan keluarga

Weblog berfungsi sebagai tempat menyimpan tulisan dan foto peristiwa keluarga, seperti proses kehamilan dan catatan perkembangan anak. Tulisan atau foto ini diharapkan bisa dilihat sanak keluarga yang secara geografis jauh dari tempat mereka berada.

Intan, ibu satu anak yang doktor matematika, mengatakan, "Saya ingin cerita keseharian anak, perkembangannya, dan segala hal tentang dia, supaya kalau besar dia bisa membayangkan seperti apa hidup dia waktu kecil di negara lain." Sedangkan Nining, ibu satu anak yang tinggal di Montreal, Kanada, mengatakan, "Blog berfungsi sebagai arsip keluarga."

Weblog sebagai catatan keluarga juga dirasakan Opie yang tinggal berjauhan dari suaminya. Baginya, weblog merupakan catatan keluarga tentang kehidupan sehari-harinya sehingga suaminya bisa tetap mengetahui apa saja yang dikerjakan walaupun berjauhan.

Weblog juga bisa berfungsi sebagai tempat menyegarkan pikiran dan menghilangkan stres dengan berbagai penyebab. Dengan menuangkan unek-unek dalam bentuk tulisan, stres bisa berkurang. Begitu juga dengan melihat-lihat weblog orang lain dan menyapa penghuninya, beban hidup terasa berkurang.

Kanada

Jessi yang tinggal di Kanada mengatakan, dengan ngeblog (istilah untuk segala aktivitas yang berkaitan dengan blog), dia bisa mengurangi stresnya. Sylvie yang juga pustakawan mengatakan, weblog bisa membantu menghilangkan kebosanan di dunia kerja, "Jadi, kalo bosan kerja dan gak produktif, ngintip blog orang dan blogfam! Setelah itu jadi produktif lagi!!" Renha, ibu muda di Jakarta, juga mengatakan weblog bisa menghilangkan stres karena dia bisa "ngomel-ngomel" mengeluarkan unek-uneknya di weblog-nya.

Weblog juga merupakan alternatif sosialisasi pada zaman global ini. "Saya tak perlu terjebak macet untuk berkomunikasi dengan teman-teman," kata Rieke, arsitek dan ibu dua anak laki-laki yang tinggal di Jakarta. Ibu-ibu yang mengisi angket semuanya setuju melalui weblog mereka bisa mendapat banyak teman tanpa dibatasi ruang dan waktu, saling menghibur jika ada di antara mereka yang kesusahan, dan saling berbagi kebahagiaan. Inilah yang disebut Inayati, ibu tiga anak di Jerman, sebagai silaturahmi virtual.

Fungsi informatif

Rata-rata ibu-ibu saling berbagi info lewat weblog mereka. Informasi itu bisa berupa resep makanan, obat-obatan, mengasuh anak, perjalanan, politik, kesusasteraan, buku, film, ekonomi, bahkan teknologi informasi. Banyak di antara mereka yang tadinya buta terhadap kode HTML dan desain weblog menjadi canggih dengan bertukar informasi sesama weblogger. Alice di Orlando mengatakan, dia jadi melek HTML gara-gara ngeblog.

Dayu dan Yana juga merasa bisa mengatasi virus komputer hanya dari informasi yang didapatkan di-weblog. Rata-rata weblogger saling membantu dan memberikan informasi yang dibutuhkan teman-teman sesama weblog-nya. Ros, dokter mata di Surabaya, mengatakan dia sangat senang bila bisa memberi informasi tentang kesehatan mata bagi pengunjung weblog-nya. Itha dan Hani menjadikan weblog-nya sebagai sarana berbagi informasi dan menjalin dunia selam dan laut. Sedangkan Inayati mengatakan, dia bisa mengetahui informasi terbaru maupun lama, khususnya pada blog yang sifatnya informatif.

Dengan beragam informasi yang didapatnya dari weblog ini, para ibu merasa well-informed dan dengan pengetahuan itu mereka merasa lebih bisa menghadapi kehidupan dengan lebih percaya diri.

Weblog juga menjadi sarana mengekspresikan diri baik dalam bentuk tulisan maupun gambar berupa desain layout itu sendiri. Rieke mengatakan, "Weblog adalah untuk menyalurkan hobi dalam otak-atik foto dan desain web." Hirta di Jerman mengatakan, weblog membuat mereka menjadi lebih kreatif karena bisa mengubah tata letak desain tanpa tergantung orang lain. Yanti, sarjana mesin di Bandung, mengatakan, dengan weblog, dia menyalurkan energi positif berupa pembuatan desain website, terutama ketika jenuh dengan pekerjaan kantor.

Untuk Ika yang mengikuti suami sering berpindah tugas memanfaatkan weblog untuk menyalurkan hobi masak dan membagi resep dengan teman weblkoogger, sementara Elsa di Belanda dan Liza di Bali memakai weblog sebagai penyaluran hobi menulis. Mereka sering menempel cerpen di weblog. Mereka kemudian menemukan komunitas untuk membuat cerita bersama yang rencananya akan diterbitkan dalam sebuah buku.

Pemberdayaan

Dengan kemampuan menulis ini dan dipublikasikan lewat weblog masing-masing, diharapkan suara perempuan dapat lebih terdengar atau sama kerasnya dengan suara laki-laki yang selama ini lebih mendominasi pendapat dalam pengambilan keputusan.

Weblog sudah menjadi bagian hidup bagi perempuan di zaman global. Dengan weblog, ibu-ibu dapat mencari alternatif menambah ilmu pengetahuan, bermasyarakat dan berekreasi tanpa harus melalui kontak fisik secara konvensional. Pola pergaulan perempuan di era global ini tidak berubah, hanya saja mengalami transformasi budaya dengan adanya weblog yang terhubung lewat koneksi internet.

Dengan melihat keefektifan media weblog ini mungkin sudah saatnya para aktivis jender di Indonesia memanfaatkannya sebagai media alternatif pemberdayaan perempuan di Indonesia.

Labibah Zain Pendiri komunitas weblogger Indonesia blogfam (http://www.blogfam.com); Pemilik weblog http://www. serambirumahkita.blogspot.com; Pengajar Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta